Headlines News :
Home » » Hasil Temu Forkafmi Dengan Revrisond Baswir

Hasil Temu Forkafmi Dengan Revrisond Baswir



 (Foto: Bedikarionline.com)
Yogyakarta-Preswedan.com. Dalam kunjungan yang digagas oleh Bidang Kajian Strategis, Forkafmi (Forum Kajian Filosofis Mahasiswa Indonesia) melakukan kunjungan ke Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM yang diketuai Revrisond Baswir yang juga dosen FEB UGM, ada hal-hal yang  disampaikan oleh beliau mengenai isu kenaikan BBM. Yaitu kenaikan BBM atau pencabuatan subsisi BBM tidak lain adalah dampak dari dominasi asing di Indonesia, dimana perusahaan seperti Exon Mobil, Chevron, dll memainkan peran yang cukup signifikan. Bahkan Pertamina senidiri sebagai Perusahaan negara hanya menguasai 17% dari total minyak di indonesia.

“Isu kenaikan BBM tidak lain adalah dampak dari neoliberal di Indonesia, seperti Exon Mobi, Chevron, dll, sehingga mengharuskan pertamina sebagai perusahaan negara hanya menguasai 17% saja dari total produksi di Indonesia” tuturnya kepada Forkafmi.

Selain itu, ketika berbicara Energi di Indonesia tidak bisa dileapaskan dari adanya UU Migas No 22 tahun 2001, dimana Draft UU tersebut memperkecil peranan pertamina dalam memainkan pasar BBM di Indonesia. Terdapat banyak pasal yang telah dibatalkan MK demi hukum, namun ada point besar yang masih berlaku dan belum dihapus, seperti peran pertamina disejajarkan dengan perusahaan asing, mekanisme harga BBM ada pada pasar, sektor hilir seperti pembukaan SPBU terbuka untuk asing.

“yang masih membelenggu pertamina dalam pengembangannya adalah UU Migas No 22 tahun 2001, yaitu memperkecil peran pertamina dalam produksi dan penjualan BBM”, lanjutnya

Selain itu persoalan tentang subsidi BBM juga tidak bisa dilepaskan dari difinisi subsidi itu sendiri, bahwa pemerintah memiliki hak untuk memberi pengertian subsidi. Bahwa dikatakan salah satu indikator kekayaan di Indonesia adalah kepemilikan kendaraan motor. Dan ini kontras dengan keadaan sekarang dimana masyarakat menengah kebawahpun bebas untuk memiliki motor meskipun dengan cara kredit.

Data dari kepolisian republik indonesia mencatat bahwa indonesia adalah negara pemakai kendaraan bermotor terbesar di dunia yaitu sekitar 80,9% dari total populasi. Ini menjunjukan salahnya difinisi pemerintah mengenai subsidi, karena kenyataannya rakyat miskinpun banyak yang memiliki motor.

“pemerintah salah dalam mengartikan arti kata subsidi, yaitu mengaanggap pemilik kendaraan bermotor adalah kaya. Ini jelas merugikan rakyat kecil, karena pada dasarnya merekapun memiliki motor, walaupun dengan kredit. Jadi kenaikan BBM jelas merugikan rakyat secara umum” lanjutnya.

Saat ini Forkafmi tengah menggodok kajian  kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.

Oleh : Rifqi Fuady
Bagikan tulisan ini :
 
Support : Preswedan.com
Copyright © 2011. Preswedan - All Rights Reserved
Design By Preswedan
Proudly powered by UGM